|

Minum Diteteskan dengan Sendok Makan


*Adil, Batita yang Hidup dalam Penderitaan

Adil, bocah beusia 1 tahun, yang tinggal bersama orang tuanya di Desa Napalicin, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura) tidak dapat merasa hidup normal seperti Batita seusianya. Ia mengalami sedikit kelainan pada rongga mulut dan kedua matanya. Berikut kisahnya.

Leo Mura, Napalicin
PERASAAN sedih selalu terlintas di raut wajah kedua orang tua Adil berprofesi sebagai petani karet. “Yah mungkin ini sebuah cobaan dari Tuhan untuk keluarga kami. Orang tua mana yang menginginkan kondisi seperti ini, tapi ini keadaan yang harus kami hadapi dengan ikhlas meski terkadang ada rasa penyesalan,” kata Yuzaminda, bibi Adil kepada wartawan koran ini, Sabtu (11/12).

Buah cinta dari pasangan Muhammad dan Yusnani Saria dilahirkan di Napalicin 26 September 2009 dalam kondisi memilukan. Ketika ia lahir, ia sehat dan bahkan berat badannya saat itu mencapai 3 Kg dan normal. “Namun kondisi kedua mata dan mulutnya yang membuat sedih,” tutur bibi Adil dengan nada sedih jika mengingat nasib keponakannya.

Sejak ia lahir, ia tidak dapat mengkonsumsi ASI yang ibunya. Kendati kondisi mulutnya yang kurang sempurna. Jadi ia minum dengan menggunakan sendok dan makan makan bubur SGM dan itupun terbatas. “Yang kami sedih ketika memberi makan, karena dirinya tidak bisa mengunyah, hanya bisa menelan. Kami bingung jika melihat diri Adil, apalagi keluarga kami hanya seorang petani,” imbuh gadis yang sekolah di SMA Napalicin ini.

Lantas bagaimana jika SGM yang diberikan kepada Adil habis, ia mengaku pihaknya menggantikan makanannya dengan makan roti yang dihancurkan dengan air. Sejauh ini pemerintah setempat sudah mengetahui nasib Adil, hingga mereka mengusulkan untuk membawa Adil ke RS Sobirin untuk mendapat perawatan. Namun upaya itu, tidak dapat dilakukan kendati tidak memiliki uang yang cukup untuk mengobati Adil. “Kami tidak punya uang untuk membawanya ke RS. Apalah artinya seorang petani, kami hanya bisa berdoa dan menerima Adil dengan ikhlas. Mungkin dibalik ini ada hikmahnya,” ungkapnya.

Ditengah usianya satu tahun ini, Adil sudah bisa berdiri dan berjalan seperti anak lainnya sambil dibimbing karena ia tidak dapat melihat. “Di usianya satu tahun, berat badan Adil semakin bertambah. Sekarang berat badannya 7 Kg,” ucapnya.

Sementara itu, wartawan koran ini bertanya mengapa hal itu bisa dialami oleh Adil? Sontak ia sedikit terkejut dengan pertanyaan ini sambil mengatakan, sehari sebelum ibunya melahirkan, ayahnya menendang anak kucing yang sedang mengambil ikan di pondok yang berada kebunnya. Mungkin marah atau kesal dengan perlakuan anak kucing tadi. Ayahnya langsung menendang anak kucing tersebut hingga kucing itu merasa kesakitan di bagian mulut dan hidungnya.

“Akibat dari itulah, malamnya ayah Adil bermimpi dengan anak kucing itu. Dan anak kucing itu berkata mulutku sakit sambil mengatakan tunggulah, anakmu akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Nah, keesokan harinya ketika anaknya lahir, Adil memang mengalami apa yang dikatakan oleh anak kucing tadi,” katanya dengan sambil memperagakan cerita ayah Adil.

Untuk itu, pihaknya sagat membutuhkan uluran tangan dari para dermawan untuk dapat membantu menyembuhkan anak pertama dari pasangan Muhammad dan Yusnani Saria.(*)

Posted by Linggau Pos on Senin, Desember 13, 2010. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Minum Diteteskan dengan Sendok Makan"

Leave a reply

Calon Gubernur 2013

 
Linggau Pos Jl. Yos Sudarso No. 89 Kel. Batu Urip Taba Kota Lubuklinggau
Copyright © 2013. Linggau Pos | Jawa Pos Group - All Rights Reserved
HarianPagi Pertama dan Terbesar di Bumi Silampari
Dibuat Oleh: Edi Sucipto