|

Dugaan Aliran Sesat Menguat


STL ULU TERAWAS-Dugaan aliran menyimpang tarekat Naqsabandiah di Desa Sukaraya, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), makin menguat. Berdasarkan sejumlah pengakuan masyarakat, pengikut aliran tersebut sekarang bergerilya mencari anggota baru dengan mendatangi mantan pengurus masjid.

“Saya pernah didatangi salah seorang anggota jemaah itu (Naqsabandiah), agar masuk ke tarekat mereka. Caranya dengan membayar uang administrasi Rp 50 ribu. Kalau dibilang resah, sampai saat ini belum tetapi kalau mereka datang ke rumah sampai malam hari,” ucap Jr, warga Dusun Sukaraya Desa Sukaraya.

Diceritakan Jr, dalam perbincangannya ia mengaku sempat dijanjikan pasti akan masuk surga jika mau bergabung dalam aliran mereka. Bahkan ia mengaku, sebelum masuk dalam anggota tarekat Naqsabandiah calon jemaah terlebih dahulu dimandikan pada malam hari lewat pukul 00.00 WIB.
“Orang itu menyebutnya mandi taubat. Mereka juga pernah bilang hanya aliran mereka yang masuk surga dan ada nabi yang lebih tua dari Muhammad. Bahkan hal yang paling membuat saya terkejut ketika dia bilang tidak ada gunannya naik haji. Mereka melaksanakan zikir setiap Senin malam secara berpindah-pindah,” papar Jr.

Hal senada dikatakan Jl, warga yang sama. Menurutnya para pemimpin jemaah tarekat Naqsabandiah sejak beberapa tahun lalu sudah tidak lagi aktif dalam kegiatannya. Namun sekitar dua bulan terakhir, mereka diduga kembali menambah anggotanya pasca terbentuknya kepengurusan baru masjid Nurul Hikmah.

“Memang tidak meresahkan tapi terkadang mereka datang ke rumah yang ingin diajak masuk anggotanya tidak kenal waktu. Dulu pernah mereka datang ke rumah saya malam hari tidak pulang-pulang. Sampai-sampai tetangga saya memutus kabel genset karena merasa terganggu dengan pembicaraan kami, tapi mereka malah mengambil lampu sentir untuk melanjutkan pembicaraan,” papar Ji yang juga mantan pengurus Masjid Nurul Hikmah.

Selain itu menurut Ji, saat membujuk dirinya jemaah tarekat Naqsabandiah mengatakan telah memiliki kurukulum sendiri. Setelah menempuh pendidikan dasar di Desa Sukaraya, para jemaah melanjutkan pelajaran di Suka Datang, Kota Curup. “Menurut mereka jika ada yang sudah masuk dalam aliran tarekat lalu keluar dianggap kafir. Bahkan waktu saya tanya bagimana jika ada yang mau masuk tapi tidak bisa baca dua kalimat syahadat, mereka bilang itu tidak penting yang utama masuk dulu dalam anggota tarekatnya,” jelas Ji.

Beda halnya dengan Bustomi, tokoh agama setempat. Mantan pengurus Masjid Nurul Hikmah itu mengaku telah bosan dengan isu dugaan aliran sesat yang beredar. Hal ini sangat beralasan, karena sejak munculnya isu ini, pemerintah belum bisa menyelesaikannya.

Isu yang berkembang saat ini menurutnya hanya membuat renggang hubungan masyarakat. “Seharusnya pemerintah mencari jalan keluarnya dan memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat mana aliran yang benar. Dari dulu sampai sekarang yang dipermasalahkan ini-ini saja. Memang saya pernah diminta untuk masuk ke dalam aliran itu, tapi saya bilang mungkin untuk tahun ini saya belum bisa,” akunya.

Terpisah, Kades Sukaraya Supri didampingi Sekdes, Samsul mengatakan berdasarkan data yang ada hampir 80 persen warga Dusun Sukaraya telah menjadi anggota tarekat Naqsabandiah. Namun dari jumlah tersebut yang masih aktif hanya sekitar 15 orang. “Jumlah kepala keluarga (KK) di Dusun Sukaraya sekitar 104 KK. Sejauh ini belum ada masyarakat yang melapor resah atas keberadaan tarekat ini. Namun kita terus melakukan pemantuan,” terangnya.

Beberapa jemaah Naqsabandiah yang masih aktif diantaranya Cik Din, Latif, Zainal Arifin, Edi, Romi, Indra dan M Doa. Mereka melaksanakan aktifitas setiap Senin malam secara bergantian dari rumah satu ke rumah lain. “Awalnya tarekat ini disampaikan Zainal Arifin (Alm). Setelah dia meninggal diteruskan oleh anaknya bernama Muhammad. Jika memasuki puasa, terkadang makam Zainal Arifin di Dusun Sukaraya banyak dikunjungi masyarakat luar,” kata Supri.

Sementara itu salah seorang anggota jemaah tarekat Naqsabandiah di Dusun Sukaraya, Cik Din ketika akan dikonfirmasi tidak berada di tempat. Rumah berukuran lebih kurang 8X12 bercat putih tempat ia tinggal terlihat sepi hanya ada istrinya Eli Sumarni bersama seorang anak. “Bapak belum pulang masih motong (Menyadap karet, red),” ujar Eli saat wartawan koran ini menyambangi kediamnnya, Sabtu (29/1).

Di lain tempat, Dedi Putrawansyah mengaku salah satu pengikut aliran tarekat Naqsabandiah di Desa Sukaraya mengatakan seluruh informasi yang beredar di lapangan saat ini tidak benar. Bahkan ia menyayangkan sikap pemerintah yang terlalu cepat mengambil keputusan dengan mengatakan aliran sesat. “Semua yang kami lakukan hanya semata-mata ibadah tidak terlepas dari itu. Jadi mana yang dikatakan aliran sesat. Mengenai pernyataan bahwa bahwa tidak ada aliran yang masuk surga selain tarekat Naksabandiah tidak benar,” bantah Dedi yang juga Ketua Umum Jamiayyah Ahlithariqoh Mu’tabaroh Indonesia (Jatmi) Lubuklinggau.

Kemudian warga Jalan Patimura RT 01 No. 46 Kelurahan Muara Enim, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, membantah pernyataan salah seorang calon jemah tarekat Naqsabandiah mengatakan ibadah haji tidak ada gunanya. “Itu tidak benar jemaah kami tidak pernah mengatakan begitu. Memang sebelum masuk calon anggota terlebih dahulu dimandikan pada malam haru lalu menunaikan shalat taubat,” bantahnya ketika mendatangi Graha Pena Linggau, Minggu (31/1).

Untuk diketahui, MUI Pusat mengeluarkan Pedoman Identifikasi Aliran Sesat pada tanggal 6 November 2007. Dalam pedoman ini ditetapkan sepuluh kriteria sesat, yaitu mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam, meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar‘i, meyakini turunnya wahyu sesudah Al-Qur’an, mengingkari autentisitas dan kebenaran isi Al-Qur’an, melakukan penafsiran Al-Qur’an yang tidak berdasarkan kaedah-kaedah tafsir, mengingkari kedudukan Hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam, menghina, melecehkan dan merendahkan para nabi dan rasul, mengingkari Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi dan Rasul terakhir, mengubah, menambah dan atau mengurangi pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan oleh syariat, seperti haji tidak ke Baitullah, salat fardu tidak lima waktu, dan mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar‘i, seperti mengakafirkan muslim hanya karena bukan kelompoknya. (10)

Posted by Linggau Pos on Senin, Januari 31, 2011. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 komentar for "Dugaan Aliran Sesat Menguat"

Leave a reply

Calon Gubernur 2013

 
Linggau Pos Jl. Yos Sudarso No. 89 Kel. Batu Urip Taba Kota Lubuklinggau
Copyright © 2013. Linggau Pos | Jawa Pos Group - All Rights Reserved
HarianPagi Pertama dan Terbesar di Bumi Silampari
Dibuat Oleh: Edi Sucipto